Halaman

Rabu, 12 Desember 2012

I Love You, Dad [Diary #2]

Dear dad,
I may love a lot of man in the future, someday, I'll get married to someone out there, but in the end let me remind you, no matter what happen, you'll always be the best guy for me.
I LOVE YOU UNTIL FOREVER ENDS :')


Tiba-tiba ingat ayah,
Ya Allah, kabulkan do'aku untuk kedua orangtuaku..
I Love You, Dad Read more...

Rabu, 27 Juni 2012

Pull Me Through The Past [Diary #1]

          Tiba-tiba terlintas masa-masa itu.
          Saat untuk pertama kalinya aku dan dia bertemu dalam kepolosan anak remaja, tak mengerti apa-apa selain meraih prestasi setinggi mungkin dan mengasah kemampuan setajam mungkin.
          Tanpa kusadari ada sesuatu yang aneh yang menyelusup ke dalam pikiran tentang hubungan antar teman. Aku tersenyum sendiri mengenangnya.
**

          Masa orientasi siswa sekolah menengah pertama sedang berlangsung. Sejujurnya aku tak begitu peduli, aku hanya ingin mencari ilmu dan memiliki teman.
          Tak berlangsung lama, aku dan teman satu SD-ku bertemu dengan beberapa orang yang tak sengaja bertegursapa hingga akhirnya kami berkenalan. Temanpun bertambah, dan aku merasa sangat lega.
          Menyenangkan rasanya memasuki dunia baru dalam hidupku. SMP tidak semenakutkan bayanganku sebelumnya, yang penuh dengan anak-anak berandalan. Mereka ternyata cukup baik, mengingat SMP yang kumasuki termasuk salah satu sekolah terbaik di kotaku.
**
          Kegiatan belajar mengajar sudah dimulai sejak seminggu yang lalu. Guru-guru pun sudah memberikan tugas rumah pada siswa-siswanya, termasuk mewajibkan seluruh siswanya mengikuti salah satu kegiatan intrakurikuler creative day.
          "Dila, kamu mau ikut cd apa?" tanya Fani, teman SD-ku. Kami sengaja menyingkat cretive day dengan cd, agar lebih singkat.
          Aku berpikir sejenak, dan langsung memutuskan, "English Club."
          Fani hanya mengangguk-angguk mengerti, karena dia tahu bahwa aku cukup berprestasi dalam bidang bahasa asing itu sejak sekolah dasar.
          Aku tak pernah tahu bahwa hidupku mulai berubah sejak saat itu.
**
          Hari pertama mengikuti EC membuat jantungku berdebar. Bagaimana tidak? Guru-guru di sekolah sudah mengetahui bahwa prestasi Bahasa Inggrisku termasuk paling cemerlang sampai saat ini di antara siswa yang lain.
          Mrs. Isma saat itu menyuruh kami memperkenalkan diri pada teman-teman yang lain, dalam Bahasa Inggris tentunya. Dan kau tahu? Kemampuan speakingku adalah yang terfasih diantara siswa lulusan sekolah dasar lainnya.
          Hari berganti minggu berganti bulan pula. Kemampuan Bahasa Inggrisku dan teman-teman kian meningkat, namun hanya dua siswa yang kemajuannya begitu pesat. Aku dan dia.
**
          English Club menjadi salah satu cd favorit di antara siswa-siswi kelas 7 saat itu. Ryo dan Lia, teman sekelasku, ikut bergabung di dalamnya. Mereka sangat antusias dengan kegiatan akademik seperti ini. Mungkin itu yang membuat kami dekat dan bersahabat hingga sekarang.
          Hampir setahun kami menjadi anggota EC, dan yang pertama kali menyadari ada sesuatu yang ganjil di dalam kelas adalah Lia.
          "Dil, kok aneh ya?" tanyanya membuatku penasaran.
          "Aneh kenapa? Kelasnya? Atau... aku?" tebakku asal. Lia memang ekspresif, dan itu terkadang membuatku terkikik geli saat mendengarkan cerita-ceritanya.
          "Tiap minggu bangkumu tempat dudukmu tidak selalu di sini kan?" tanyanya lagi memastikan.
          Aku mengangguk.
          "Apa tempat duduknya selalu di sana?"
          Aku mengernyitkan dahiku heran. "Siapa?"
          Lia hanya menunjuk orang itu. Aku pun menggeleng.
          "Tidak. Tempat duduknya juga sering berpindah-pindah. Memangnya kenapa? Apa sesuatu yang aneh itu dia?" jawabku polos sekaligus ingin mengetahui sesuatu seaneh apa yang sedang dipikirkan Lia.
          "Mmm." Lia mengangguk pasti.
          "Kau tidak sadar kalau selama berada di EC tempat duduknya selalu dekat denganmu? Kalau kau duduk di bangku kedua barisan ini, pasti tempat duduknya kalau tidak di bangku ketiga barisan samping, selalu di bangku sejajar denganmu!" lanjutnya bersemangat.
          Saat itu aku memang tidak begitu memperhatikan ucapan Lia dan fakta bahwa tempat duduknya selalu berada di dekatku selama EC, karena di sekolah kelas kami berbeda.
          Sejak Lia mengucapkan perkataannya, aku jadi sering memikirkan tentang kebenaran fakta itu. Jiwa remaja awal dalam diriku pun ikut menguar dan mulai timbul pertanyaan-pertanyaan dalam otakku.
          Apa benar seperti itu?
 **
          Dia ternyata tidak hanya mengikuti cd English Club, tetapi juga Klub Sastra. Dia pandai menulis walaupun baru akan tahun kedua di sekolah menengah pertama.
          Akhir-akhir ini aku jadi semakin tertarik dengan apa saja yang ia lakukan. Aneh memang, dasar remaja labil, haha..
          Ia sering mengunjungi perpustakaan, sama sepertiku. Apa mungkin ini kebetulan? Wah, kebetulan yang menyenangkan!
          Aku, Ryo dan Gita (pecinta Harry Potter dan salah seorang teman sekelasku di EC, namun berbeda kelas di sekolah) sering mengunjungi perpustakaan untuk meminjam buku-buku fiksi di sana, terutama Harry Potter. Kami sering sekali meminjam buku-buku tersebut dan mengembalikannya kemudian meminjam kembali, ya seperti itu. Kami sayang sekali dengan buku-buku Harry Potter di sana. Masih rapih, dan sayang jika harus rusak karena sering dipinjam oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab, hihihi..
          Di perpustakaan kerap kali aku bertemu dengan Fani, yang memang beda kelas denganku. Fani mengikuti Klub Sastra, jadi ia lebih sering berada di perpustakaan daripada aku. Otomatis ia juga sering berkomunikasi dengan dia.
          Entahlah, semenjak awal kelas 8 Fani seringkali mengajakku bicara, err... curhat. Hanya saja, ini bukan tentang dirinya, tapi tentang dia.
          Aku pun tahu bahwa Fani sangat dekat dengan dia. Tahukah apa yang diceritakannya, lebih tepatnya, yang akhirnya dispekulasikannya?
          "Sepertinya dia menyukaimu sejak awal masuk English Club!"
          Dan itu cukup membuatku terkaget. Uh, betapa polosnya diriku dulu.
**
          Masih bisa kurasakan berdebarnya jantung ini setiap kali memasuki perpustakaan. Aku hafal betul kapan dia berada di perpustakaan. Setiap jam istirahat pertama dan jam pulang sekolah.
          Perkataan Fani mendengung begitu saja di telingaku. Ya, mungkin aku memang ge-er menanggapi apa yang dikatakan Fani. Tapi Fani? Ia tak pernah tahu bahwa aku selalu berdebar setiap masuk perpustakaan, ingin tahu apakah dia menyadari kehadiranku di sana, apakah sama berdebarnya?
          Aku sering bersama Ryo dan Lia setiap masuk perpustakaan, walaupun terkadang hanya aku sendirian karena duo sahabatku tak bisa menemaniku ke sana. Bahkan mereka pun tak tahu apa yang aku rasakan.
          Sungguh konyol mendapati diri sedikit salah tingkah dan jaim saat berada di lingkungan yang ada dia di dalamnya.
          Mengapa aku seperti ini? Aku juga tak tahu. Suatu sensasi yang menyenangkan saat membiarkan perasaan berdebar-debar tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya.
          Ada perasaan yang meletup-letup saat suatu ketika mendapati dia sedang melihatmu. Oh, baiklah aku juga tidak tahu itu sengaja ataukah tidak disengaja. Aku tak tahu sama sekali.
          Suatu fakta yang benar-benar tak akan bisa dipercaya, bahwa kami tidak pernah saling bertegur sapa satu sama lain. Tidak pernah.
**
          Tidak terasa aku sudah menginjak tahun terakhir di sekolah menengah pertama. Dan itu membuatku menjadi sedikit lebih sibuk.
          Aku tidak pernah mengambil les privat akademik selain Bahasa Inggris saat aku masih SD. Jadi, aku pun menyibukkan diri mengikuti Palang Merah Remaja dan lomba-lomba Bahasa Inggris.
           Mengingat speech contest saat itu benar-benar membuatku ingin kembali pada saat itu juga. Aku, Gita, dan dia bersama beberapa adik kelasku mengikuti lomba Bahasa Inggris itu. Speech contest dan reading poetry.
           Lomba itu amat sangat berkesan sekali bagiku. Awalnya mungkin aku dan dia agak canggung, terlihat saat dia akan mengambil tempat duduk, ia agak menghindar dariku. Hmm.. entahlah..
           Namun waktu berjalan seiring dengan mencairnya kecanggungan antara kami sedikit demi sedikit. Dia menegurku karena ada salah seorang kakak kelas (yang sudah SMA) yang bertanya terus padaku. Well, mungkin sedikit menggodaku atau apalah aku juga tak tahu. Mungkin dia risih, apalagi aku?? Tapi harusnya aku berterimakasih pada kakak kelasku itu karena melalui tingkah lakunya, ia memberanikan diri menegurku dan untuk pertama kalinya kami saling bertegur sapa. >.<
          Yang membuatku merasakan sensasi meletup-letup berikutnya adalah saat kami berada di angkutan kota sepulang dari lomba. Karena jarak dari lokasi lomba ke rumahku lebih dekat daripada ke sekolah, aku pun sampai ke rumah terlebih dahulu. Selama di perjalanan kami saling diam, namun berceloteh riang dengan teman-teman yang lain. Sampai pada saat membahas topik mengenai sekolah lanjutan yang akan dituju, akhirnya ia pun bertanya padaku, begitu pun aku. Kami pun mengobrol, walau hanya sebentar, bahkan sempat bercanda tentang ongkos yang diberikan Mr. Wahyu untuk kami. Ckckck..
          Dan menurutku, itu adalah hari yang paling mendebarkan!
**
          Keesokan harinya, kupikir dia akan bersikap biasa saja padaku. Ternyata?? Dia kembali pada sikap dinginnya yang seolah tak melihatku dan tak menyapaku. Huh.
          Tapi aku seringkali memergoki dia sedang memperhatikanku *semoga aku tidak kege-eran* dan langsung memalingkan muka begitu aku melihatnya. Cheesy sekali. Bahkan teman-temannya pun terkadang bersuit-suit kalau aku melewati kelasnya. Apa gossip itu benar? Apa benar dia menyukaiku? Aah.. aku tak tahu..
          Walau begitu, aku juga seringkali dibuat berdebar saat berpapasan di lorong kelas ketika hendak menuju kelas pengayaan ujian nasional. Kadang aku menunduk, berpura-pura tak melihatnya, melihat tembok, atau bahkan berpura-pura mengobrol dengan Lia, walaupun setiap berpapasan dengannya Lia selalu menyikut tanganku. Kutekankan sekali lagi, sampai saat ini pun Lia tak tahu tentang ini semua, hoho.. ^o^
***
         Kurasa... dia memang benar pernah menyukaiku. Tapi aku tak tahu, apakah itu berlaku sampai sekarang atau tidak sama sekali..
          Masih banyak yang harus ku ceritakan sebenarnya :D

          To Be Continued ...
Read more...